Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2023

Galon Palsu, Benarkah Berbahaya Bagi Tubuh?

Berawal dari cuitan Chef Devina Hermawan yang sempat viral di jagat maya pada tempo hari, membuat banyak netizen akhirnya dibuat khawatir dengan hal ini. Pasalnya dalam cuitan tersebut Chef Defina menyinggung mengenai Konferensi Pers yang dilakukan oleh Polres Cilegon Polda Banten pada Jumat (22/07). Dimana dalam Konferensi Pers tersebut, Polres Cilegon Polda Banten mengungkap adanya kasus tindak pidana perlindungan konsumen dan pangan mengenai pemalsuan atau pengoplosan air minum dalam kemasan (AMDK). Sontak hal itu membuat saya khawatir dengan keaslian air galon yang saya dan keluarga konsumsi selama ini. Pasalnya galon palsu ini terjadi pada merk galon yang sudah lama beredar di Indonesia. Pelaku membuat seolah-olah galon tersebut asli berasal dari pabrik produsen, sehingga hal inilah yang banyak membuat konsumen mudah tertipu. Sungguh ironi memang, lagi dan lagi konsumen yang dirugikan jika kasus pemalsuan ini terus berlarut tanpa adanya solusi yang konkrit. 



Berdasarkan penuturan Kapolres Cilegon Polda Banten AKBP Eko Tjahyo Untoro saat Konferensi Pers, setidaknya ada 5 orang pelaku yang telah di amankan terkait tindak kejahatan ini. Modus yang dipakai pelaku yakni memalsukan air minum di isi dengan air yang berasal dari air depot yang kemudian akan distribusikan ke warung dan agen sekitarnya. Tutup galon dan badan galon yang digunakan asli dari brand, namun hanya isi airnya saja yang diganti, sehingga sulit untuk dideteksi oleh mata konsumen. Menurut pengakuan pelaku, tindak kejahatan ini telah ia lakukan hampir 2 tahun lamanya. Pelaku mengatakan mampu memproduksi 100 galon palsu setiap harinya atau 2500 galon palsu dalam sebulan. Dari hasil pemalsuan air galon ini pelaku berhasil meraup keuntungan sebesar Rp. 28 juta dalam sebulan.

 


Solusi Dari Produsen

Dengan adanya kasus kejahatan seperti ini, konsumen tentu sangat dirugikan. Pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tubagus Haryo, mendesak pihak produsen pemasok air galon dalam kemasan dapat memberikan solusi yang responsif dari adanya tindakan pemalsuan ini. Menurut catatan kepolisian setidaknya hampir setiap tahunnya selalu ditemukan tindak pemalsuan air galon tersebut. Hal ini memang bukanlah hal yang baru, karena sebelumnya sudah marak ditemui kasus seperti ini dalam beberapa tahun kebelakang. Pada tahun 2011, kasus serupa di temukan di Bantul, lalu menyusul di Kota Depok (2016), Tangerang Selatan (2017), Pandeglang (2018), Magetan (2020), dan Cilegon (2022).


Atas desakan yang diberikan oleh pihak YLKI adanya informasi yang akhirnya disampaikan oleh produsen terkait hal ini yakni konsumen diminta untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu sesaat sebelum membeli air galon tersebut, dengan cara menyamakan nomor kode produksi yang berada di badan galon dan tutup galon. Nyatanya hal ini tidak memberikan solusi yang cukup memuaskan, bagaimana kalau kondisinya ialah tutup dan galon adalah asli bernomor kode produksi yang sama namun dioplos atau diisi dengan air yang bukan berasal dari produsen galon air kemasan tersebut. Hal ini yang sangat disayangkan, produsen dianggap tidak becus untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada konsumennya. Hal ini berimbas pada menurunnya penjualan air galon dalam kemasan yang dikeluhkan oleh beberapa pedagang di daerah Cilegon, Serang. 


Menanggapi hal tersebut, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ikut turun tangan untuk mendesak agar produsen dapat mengevaluasi mata rantai  distribusinya dan kualitas produknya dengan cara merubah tutup galon menjadi tutup galon sekali pakai ataupun dengan teknologi untuk mengubah segel kemasan serta memodifikasi kemasan dalam kurun waktu tertentu, demi meminimalisir tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Senada dengan YLKI, pihak BPKN juga mendorong pemerintah untuk ikut serta mengawasi persoalan ini. Pengawasan pemerintah sangatlah diperlukan pada berbagai aspek seperti sumber air, logistik air, distribusi, hingga adanya potensi terkontaminasi air dengan bahan-bahan yang berbahaya.


Bahayakah Air Galon Palsu Untuk Kesehatan?

Setelah tidak adanya penanganan yang berarti dari pihak produsen, hal ini lantas membuat saya berpikir aman kah galon palsu ini untuk kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang? jawabannya adalah tentu tidak.

Dari beberapa sumber yang saya dapati, para ahli kesehatan menjabarkan akan adanya penyakit yang akan mengintai kesehatan apabila air galon palsu ini terus di konsumsi. Air mineral yang di konsumsi oleh tubuh harus lah memiliki sertifikasi telah teruji dan ber Standar Nasional Indonesia (SNI). Air galon kemasan tersebut pun juga harus melalui berbagai macam tahapan uji kelayakan dimulai dari pengambilan air yang berasal dari sumber mata air yang jernih, tahapan penyaringan, disinfeksi, sampai pada pembersihan kemasan yang meliputi badan serta tutup galon. Jika salah satu dari tahapan itu dilewati tentunya akan berbahaya sekali untuk di konsumsi oleh tubuh. Berbagai macam bakteri dan penyakit pun akan menyerang metabolisme tubuh seperti, diare, tifus, muntahber dan berbagainya.



Mengenali Ciri Khas Air Galon Palsu

Air mineral galon dapat dikatakan layak untuk dikonsumsi apabila memiliki tiga syarat, yakni tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa. 


Kita sebagai konsumen pun dituntut untuk lebih cermat lagi dalam memilih dan memilah galon yang asli dan yang palsu. Berikut ciri-ciri galon palsu yang dapat diperhatikan sebelumnya;


  1. Hal yang pertama dapat kita perhatikan adalah dari fisik air mineral itu sendiri. Warna dari air mineral palsu memiliki warna yang agak keruh. Untuk mengetahuinya konsumen dapat mengocok air galon tersebut terlebih dahulu untuk melihat perbedaannya.

  1. Air mineral palsu, biasanya memiliki bau yang tidak biasa akibat sudah terkontaminasinya air tersebut. Sedangkan air mineral yang asli tidaklah berbau.

  1. Apabila saat diminum rasa air mineral tersebut terasa lebih kesat bisa dicurigai itu merupakan air mineral palsu. Rasa kesat yang didapati setelah meminum air tersebut berasa dari debu-debu yang telah mengontaminasi air galon tersebut, sehingga menimbulkan rasa seperti ada debu yang menempel di langit-langit mulut.

  1. Pastikan tutup galon sulit untuk diputar dan tidak bocor, serta perhatikan pula tanggal kadaluwarsa dan izin produksi air mineral galon tersebut.


Semoga dari berbagai ciri-ciri diatas dapat memudahkan konsumen agar tidak terkecoh dengan galon palsu lagi. Sebagai ibu rumah tangga memang sangat penting untuk kita ketahui 

edukasi seperti ini demi menjaga keluarga tercinta tetap sehat dan ceria.


Sumber:


Share:

Selasa, 13 September 2022

Mengenal Trend Sunat Pada Bayi Lebih Dekat Lagi


"Sunat pada bayi?" "Masih bayi sudah di sunat?" "Tidak kasihan memangnya?" Kurang lebih begitulah sepenggal respon orang-orang terdekat yang saya dapati ketika mendengar kata sunat pada bayi. Memang trend ini terbilang cukup tabu, karena kurangnya edukasi yang kita dapatkan. Belum lagi dengan mitos, kebiasaan, serta adat istiadat yang sangat kental bagi orang Indonesia, menjadikan sunat pada bayi begitu terlihat "menyeramkan". Padahal tanpa disadari banyak sekali manfaat yang si kecil akan dapatkan dari tindakan sunat pada usia dini tersebut. Jadi apakah sunat pada bayi merupakan "trend" belaka? Tentu tidak Ferguso. 😋 Yuk kita bahas lebih detailnya lagi, berdasarkan pengalaman pribadi ketika menyunati putra kedua kami Salman Muhammad Xavier, di usia 10 hari.


Apa itu Sunat?

Sunat atau Khitan ialah prosedur yang dilakukan pada pria dewasa maupun anak-anak, sunat merupakan hal wajib bagi pria muslim dan beberapa agama lainnya, karena mengingat manfaat yang diperoleh bagi kesehatan begitu besar.  Sunat merupakan tindakan operasi kecil pada bagian penis pria, dimana kulit yang menutupi ujung penis tersebut diangkat atau yang biasa disebut kulup. 


Dokumentasi pribadi
Share:

Jumat, 16 April 2021

It's All About Toilet Training Salma




Bismillah... dimulai dengan menghela nafas terlebih dahulu sebelum menuangkan experience mahal ini kedalam sebuah tulisan. Yups, Toilet Training !! memang benar ya sesulit itu? memang benar ya sedrama itu? setidaknya pertanyaan ini yang terus bergelayut dalam benak saya sebelumnya, sampai-sampai eksekusinya membuat saya menjadi ragu dan maju mundur. Sebelum kita membahas pengalaman saya sukses dalam men-Toilet Training Salma dalam seminggu, baiknya kita berkenalan terlebih dahulu apa itu Toilet Training sendiri.


Apa itu Toilet Training ?

Toilet training merupakan fase yang memang harus si Kecil lalui, dalam fase ini si Kecil mulai diperkenalkan untuk mulai Buang Air Kecil (BAK) dan Buang Air Besar (BAB) di toilet selayaknya orang dewasa lakukan. Memulai toilet training yang disarankan oleh para dokter anak adalah pada rentang usia 18 bulan hingga 24 bulan, dimana pada usia ini dianggap adalah usia ideal bagi si Kecil untuk memulai toilet training. Namun perlu diperhatikan, sebenarnya usia hanyalah sebuah angka, yang terpenting adalah kesiapan dari si Kecil dan moms terlebih dahulu yang harus diperhatikan. Berikut tanda-tanda saat si Kecil sudah siap untuk memulai lepas diapers;

  • Si Kecil mulai dapat membuka celananya sendiri.
  • Pastikan si Kecil mulai dapat menyampaikan apa yang sedang ia rasakan, dan mampu untuk berkomunikasi minimal dengan gesture tubuh.
  • Si Kecil sudah mengerti intruksi sederhana.
  • Tertarik dengan hal baru misal, diajak ke toilet atau tertarik dengan celana dalam baru.
  • Mulai menunjukan bahwa dia tidak nyaman memakai diapers, apalagi saat diapers nya basah atau penuh.

Apabila si Kecil mulai menunjukan tanda-tanda seperti diatas, lalu bagaimana tahap selanjutnya? ya, tinggal ekseskusi saja moms. Tapi ingat tetap ada aba-abanya, jangan terburu-buru justru akan menggagalkan misi itu tersendiri.

  • Siapkan mental moms, karena ini adalah proses yang tidak instant. Butuh proses yang berjalan terus menurus dan berulang serta kesadaran dari si Kecil tersendiri agar proses ini berhasil.
  • Selain mental, emosi juga perlu moms kendalikan. Karena pastinya didalamnya dipenuhi drama yang luar biasa sedapnya, ngompol-ngompol dikit ah.. jangan kaget moms, itu syudah biasa!
  • Bulatkan tekat dan ajak pasangan maupun keluarga seperti kakek, nenek, om, tante, ataupun pengasuh untuk memuluskan misi ini.
  • JANGAN MEMAKSA !! kalau tidak mau gagal diawal dan berakibat memperpanjang masa toilet training ini berlangsung.
  • Pastikan kondisi moms dalam keadaan sehat dan tidak sibuk, tidak sedang berpergian atau hamil (kecuali yang nekat kayak saya hamil pun dihajar :P )
  • Kumpulkan referensi mengenai toilet training sebanyak-banyaknya, seperti tips dan sebagainya dari berbagai sumber seperti talkshow online atau sharing bersama teman. Tapi ingat jangan jadikan mereka sebagai patokan mutlak, kesiapan si Kecil akan berbeda-beda bentuk dan responnya.
  • Siapkan potty training agar menggugah minat si Kecil, tapi ini optional karena tidak berlaku untuk Salma :(
 
Toilet Training Salma

Berawal dari ucapan adik saya tempo hari yang membuat saya berfikir "Kak, Salma gak diajarin lepas pampers? nanti repot loh ada bayi lahir, double pengeluaran pula untuk pampers." kurang lebih begitu yang adik saya katakan. Sontak ini membuat saya terbangun dari lamunan panjang karena terlena dengan kepraktisan pemakaian pampers. Apalagi usia Salma saat ini bahkan sudah lewat dari batas usia ideal toilet training. Oke sejak saat itu, saya pun memutuskan untuk membulatkan tekat, tanpa peduli kondisi yang sedang hamil 5 bulan karena dalam fikiran saya kalau bukan sekarang kapan lagi?! sebelum adiknya lahir ini mungkin waktu yang tepat.

Setelah menyampaikan niat ini pada Pak suami, saya mulai membeli 3 buah celana klodis atau celana toilet training. Celana ini dapat menampung 1x buang air kecil jadi tidak akan membuat urine si kecil berceceran di lantai. Sembari menunggu pesanan celana klodis ini datang, sembari terus-terusan saya sounding kepada Salma bahwa sebentar lagi Salma akan lepas pampers, dan mulai BAK BAB di toilet. Walaupun seringkali sounding ini berakhir tidak ia hiraukan, tapi tetap saya tidak putus semangat. Saya terus membisikkannya saat bermain, saat mandi, saat tidur, kapanpun saya terus sounding sampai mulut ini berbusa rasanya 😛😝
 
 
Proses toilet training pun dimulai, Day 1


Ternyata sesuai dugaan saya, membujuk Salma untuk BAB di kamar mandi tidak semudah saat mengajak ia untuk memakan lolipop 😔 seringkali saya dibuat kehabisan akal untuk membujuknya. Walaupun perlu waktu yang lama untuk membujuknya ke toilet, namun BAK relatif lebih mudah untuk Salma terapkan. Berbeda hal nya dengan BAB, memasuki hari kedua Salma tiba-tiba ingin BAB. Saat ia menunjukan gesture akan BAB, saya langsung spontan untuk mengajaknya ke toilet dan apa yang terjadi ?? si Kecil menolak dan akhirnya mulesnya pun hilang, BAB nya tidak jadi bahkan hal ini terjadi sampai 3x. Saya sempat khawatir dengan hal ini, apa harus memakaikannya pampers lagi khusus untuk BAB? kalau begini ceritanya tentu juga tidak baik untuk kesehatannya. tapi oke saya tetap bersikeras dan menguatkan dalam hati " Ayo Salma kamu pasti bisa". 
 
Hampir tiap 2 atau 3 jam sekali saya mencoba untuk membujuknya untuk pergi BAK ataupun BAB ke toilet, untuk kali ini Salma mau tanpa perlu membujuk terlalu lama dan rupanya ia sudah tidak tahan untuk BAB. Namun apa yang terjadi? sesampainya di toilet Salma kesusahan untuk mengedan karena dalam posisi berdiri. 
 
Kasus yang berbeda pun saya alami, jadi Salma entah mengapa tidak mau duduk di potty training yang sudah saya sediakan. Jika kalian berfikir mungkin potty nya kurang menarik? jangan sedih, saya sampai membelikannya dua jenis potty yang berbeda, satu yang duduk di potty, sedangkan yang satu lagi menggunakan tumpuan tangga untuk duduk langsung di toilet. Salma lebih memilih jongkok langsung dilantai, namun semenjak ada jangkrik 😂 di toilet sepertinya dia trauma dan tidak mau lagi jongkok. Semua aktifitas BAK dan BAB nya dilakukan dalam posisi berdiri. It's okay dalam benak saya masalah ini kita bereskan belakangan yang penting Salma mau dan terbiasa untuk pergi ke toilet dulu goals nya. 
 
Potty training model tangga


Potty training model dudukan bawah


Kembali dihari kedua saat BAB Salma yang tak kunjung selesai karena posisinya berdiri menyulitkannya untuk mengedan, hal ini pun terjadi sekitar 2 jam lebih. Yes, 2 jam!! dari Azan Zuhur sampai Azan Ashar si Kecil masih dalam posisi yang kesulitan mengedan dan berdiri. Drama lainnya pun terjadi, saat itu sudah pasti Salma menangis tidak berhenti lantaran ia mengantuk dan lelah berdiri. kondisi rumah sepi hanya ada saya dan Salma saat itu, karena Pak suami sedang tidak dirumah. Entah mungkin karena bawaan hormon hamil atau tidak aku pun jadi tersulut emosi, aku merasa toilet training ini sulit sekali karena hanya saya yang menanggung. Dalam keadaan Salma yang menangis saya pun ikut menangis, betapa tidak sedih saat itu, saya merasa tidak tega melihatnya berdiri selama itu. Sesekali saya mengajaknya keluar, untuk membujuknya memakai pampersnya lagi, dalam hati saya "oke saya menyerah saat ini." Namun Salma menolak untuk saya dekati dan tangisnya semakin menjadi. dalam keadaan kalut saya menelfon pak suami sambil menangis, sungguh jika diingat saat itu benar-benar berat sekali rasanya. 
 
Lalu saya pun menumpahkan kestressan saya dalam menjalani proses ini kepada pak Suami. Suami hanya mengkhawatirkan kehamilan saya yang sudah cukup besar dan meminta saya untuk tenang serta tidak terlalu memaksa Salma. Namun kita sepakat agar proses ini tetap dijalankan.
 
Memasuki hari ke 4, Salma mulai mengompol saat tidur malam. Saya memutuskan untuk melepas diapers seutuhnya agar dia terbiasa dengan sensasi basahnya. Namun ternyata saat celananya basah ia merasa tidak nyaman sendiri dan meminta untuk dibersihkan di toilet. Disinilah waktu yang tepat untuk saya memuluskan sounding saya sebelumnya " Nah kan, kalau Salma tidak pipis di kamar mandi jadi celananya basah tuh. Bau, jorok kan?! nanti lain kali kalau mau pipis bilang mama dulu ya". 
 
Di hari ke 5, Salma mulai mau diajak ke toilet namun masih dengan bujukan yang ekstra panjang. Tidak jarang karena susahnya membujuk anak ini, yang terjadi adalah pipis di lantai pun tak terelakkan lagi. Namun ternyata inilah awal dimana Salma mulai memahami kalau pipis di celana akan membuatnya tidak nyaman.
Saat itu dia justru histeris saat melihat pipisnya dilantai. Entah kenapa emosi saya saat itu pun juga cukup tenang, saat dia ngompol saya justru lega sekaligus ini pembelajaran buat Salma, saya percaya ada makna dari sebab akibat ini. 

Dihari ke 6, betapa bahagianya saya saat itu Salma sudah mulai mengatakan sendiri tanpa saya ingatkan untuk BAK. Dan berlanjut ke hari ke 7 Salma sudah benar-benar mengerti kalau ingin BAK BAB di kamar mandi dan selalu memberi tahu saya terlebih dahulu.

MasyaAllah, takjub rasanya. Padahal saya sudah menguatkan hati "oke ini akan berjalan lama atau paling cepat pasti sebulan. Namun ternyata Salma diluar ekspektasi saya.

Tips Toilet Training Salma

1. Siapkan celana klodiz jika perlu, gunanya agar urine tidak langsung berceceran dimana-mana. Tapi satu sisi celana dalam biasa juga perlu, agar anak melihat sendiri visual urine yg menggenang kalau ia mengompol. Karenakan kalau pakai klodiz hanya basah, tapi tidak berceceran.

2. Coba siapkan storage box ditempat yang mudah dijangkau, jadi saat tiba-tiba si Kecil ngompol di malam hari, kita tinggal ambil aja celana baru tanpa gubrak gabruk lemari.

Storage box DIY dari kardus bekas



3. Sounding dengan berbagai
cara, salah satunya dengan film animasi yang banyak tersedia di YouTube. Berikut link nya 😀








Dari film seperti ini terkadang dapat membuat si Kecil lebih memahami maksud dari toilet training ini, masih banyak sebenarnya film animasi lainnya.

4. Download Aplikasi Potty Whiz, ini menurut aku membantu sekali. Dalam aplikasi ini ada fitur pencatat waktu, jadi jam berapa terakhir kali si Kecil pipis bisa terpantau, bahkan tersedia pula alarm untuk mengingatkan si Kecil pipis. Serta yang paling saya suka adalah fitur bintang-bintang saat kita memasukan catatan kedalam nya. Setiap si kecil berhasil pipis dikamar mandi, fitur ini akan memberi ucapan "Well done" dengan gambar bintang dan suara khas kembang api. Salma sangat tertarik dengan ini, jadi setiap dia mau pipis atau sesudah pipis saya akan beri bintang dari fitur ini 😂 bersyukur dia tertarik.

Aplikasi ini bisa di download di playstore, berikut linknya:  Aplikasi Potty Whiz





5. Jangan memaksa! Secara tidak sadar saya pun ternyata pernah memaksa Salma untuk memakai potty training nya beberapa bulan lalu. Saat itu Salma sangat antusias dengan potty training nya, namun hanya dibuat main jadi saya paksa untuk duduk disana jika pipis saja dan bukan untuk dia mainkan. Nah sejak saat itu, Salma sepertinya menjadi tidak mau menggunakan potty training nya lagi. Kemudian, kurangnya konsisten dari saya untuk melakukan toilet training membuat proses ini harus berhenti dan mau tidak mau, prose ini pun harus dimulai lagi dari awal yaitu beberapa hari yg lalu. 


Itulah perjalanan toilet training Salma yang MasyaAllah ❤️. Terimakasih sudah membaca sampai akhir tulisan yang cukup panjang ini 
Intinya dalam toilet training diperlukan kerjasama yang baik dari kedua orangtua, konsisten terus menerus untuk melakukan proses tersebut, perlahan dan tidak memaksa.

Perlu diingat Moms, proses ini memang harus dilalui jangan merasa stress sendiri ya. Biarkan si Kecil beradaptasi dan waktu yang akan menjawabnya 🥰

Semangat terus untuk moms hebat diluar sana.. 
















 
 



Share:

Minggu, 28 Februari 2021

Tetangga Mu Adalah Saudara Terdekat Mu






Topik kali ini mungkin akan sedikit sensitif, tapi sebenarnya ini bagian pembelajaran yang sering luput dari perhatian kita para orang tua. Maka dari itu saya coba untuk menuangkan pengalaman tidak mengenakkan saya selama bertetangga dalam topik ini, agar tidak ada lagi orang yang merasakan hal seperti saya.
 

Singkat cerita, saya adalah pasangan muda yang sedang merintis hunian idaman kami. Maka tak heran kalau kami beberapa kali pindah untuk mencari rumah sewa yang nyaman untuk kami dan si Kecil tinggali.
Namun tidak jarang pula kami merasa terganggu dengan tetangga kami sendiri yang akhirnya membuat kesalah pahaman itu sendiri dimulai.

Hampir 2 tahun ini kami menempati rumah di cluster suatu daerah. Warga dari cluster kami ini memang tidak terlalu bercengkrama satu sama lain, namun kami beberapa kali tetap bertegur sapa jika hendak berpapasan.

Karena hampir sebagian dari warga cluster ini adalah ibu-ibu pekerja, maka banyak sekali anak yang dititipi oleh ART nya. Inilah yang mulai menjadi point yang perlu kita orang tua perhatikan kembali.

Untuk sekedar menggambarkan bentuk rumah kami, rumah kami memiliki teras yang cukup luas dibanding rumah kiri dan kanan kami, teras ini pun ditutupi oleh full canopi yang membuat kita yang duduk disana akan merasakan semilir angin. Nyatanya hal ini banyak mengundang orang untuk duduk-duduk disana yang jelas sekali ini sangat menggangu privasi kami sebagai tuan rumah, karena cluster kami tidak memiliki pagar maka orang dapat dengan leluasa untuk masuk dan duduk disana.

Suatu ketika, anak saya sedang mengalami sakit panas yang membuat tidur nya tidak nyaman. Saat akhirnya dia dapat tidur dengan pulas betapa kesal nya saya ketika mengetahui anak tetangga kami main dan teriak-teriak tepat didepan jendela kamar kami yang berada di teras. Akhirnya anak saya pun bangun dan nangis kembali. Hal itu pun sering sekali terjadi, awal nya saya membiarkan saja dengan harapan orang tua atau ART nya menyadari. Namun hampir sebulan kami tinggal disana hal itu pun terus terjadi.

Saya pun akhirnya mulai memberanikan diri untuk menegur ART tersebut yang sedang asyik "nge-rujak" di teras saya. Betapa kagetnya saya saat saya buka pintu, bukan nya mereka segan, mereka malah mengajak saya untuk ikutan ngerujak. Dimulai dengan basa-basi, saya pun membuka obrolan mengenai keberatan saya selama ini, tentunya dengan bahasa yang sopan.

Setelah saya mengatakan agar anak-anak mereka jangan main di teras saya lagi, malam nya si ibu dari anak tersebut menghubungi saya secara pribadi. Beliau meminta maaf atas kelakuan anak dan ART nya, saya pun memaklumi mungkin memang beliau tidak mengetahui nya.

Namun ternyata sejak saat itu sikap tetangga saya berbeda, nyatanya bukan saya saja yang merasakan nya suami pun merasakan demikian. Beliau sudah tak pernah menegur sapa lagi ketika berpapasan dengan saya, bahkan sering kali beliau memilih untuk pura-pura tidak melihat agar tidak harus bertegur sapa dengan saya. Saya pun bertanya-tanya. Untuk saya yang tipe perasa dan pemikir ini semakin menggangu saya, fikir saya bukankan itu tanggung jawab orang tua untuk mendidik anaknya sopan terhadap tetangga dan mendidik ART nya untuk menghargai privasi tetangga. Apakah saya salah jika menegur nya? Hal itu terus yang ada di benak saya.

Dari pengalaman saya ini, rasanya Moms sekalian bisa mengambil pembelajaran untuk sedikit peduli dengan tetangga sekitar kita. Karena saudara terdekat kita ya adalah tetanga kita, ketika kita butuh sesuatu mungkin orang yang akan pertama menolong adalah tetangga kita. Betapa indah nya jika kerukunan dan saling menghargai satu sama lain terjalin didalam nya.

Serta perhatikan juga pola sikap si Kecil agar mengerti etika dan sopan santun sedari kecil. Beri si Kecil pemahaman kalau dia tidak tinggal sendiri di tempat tersebut, ada banyak yang harus dijaga kenyamanan nya. Keluarga yang memiliki bayi, keluarga yang sedang sakit, dan banyak lagi yang harus kita peduli kan.

Dan yang tidak kalah penting adalah, beri arahan ART Moms agar dapat lebih peduli dengan si Kecil, tugas nya tidak hanya menjaga dan memberi makan saja. Tapi juga memberikan sikap mana yang baik dan mana yang buruk, mengajari sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Karena yang terjadi disini adalah ART dengan sesama ART malah asyik merumpi, sedangkan si anak majikan malah main diluar rumah. Jelas hal ini sangat berbahaya, ketika si Kecil main tanpa pengawasan.

Berprofesi menjadi orang tua yang bekerja boleh-boleh saja, tapi ingat perhatikan juga perubahan sikap si Kecil. Jangan terlena ketika si Kecil sudah bersama ART, serta berilah sedikit kepedulian mu terhadap tetangga, maka hidup kalian akan damai dan saling menyayangi satu sama lain.
Semoga pengalaman ini dapat membuka hati dan pikiran kita ini ya Moms agar hidup berdampingan tanpa merugikan satu sama lain.

Share:

Moms and Dads, Lakukan Dua Hal Ini Jika Stress Melanda

 

 
 
Toxic Parenting yang menjadi pembahasan banyak orang saat ini merupakan hal yang tidak boleh disepelekan begitu saja. Pasalnya, jumlah kasus kekerasan pada anak di Indonesia baik fisik maupun verbal masih dalam tingkat yang cukup mengkhawatirkan. Sering kali kita jumpai pelaku utama dari kasus ini ialah orang tua si anak sendiri. Padahal, orang tua seharusnya memberikan kasih sayang pada si Kecil.

Kekerasan pada anak sangatlah berbahaya bagi perkembangan mental psikis si Kecil. Banyak sekali dampak buruk lantaran perilaku Toxic Parenting ini, seperti contohnya si Kecil tumbuh tidak percaya diri, si Kecil memiliki trauma masa kecil yang bukan tidak mungkin akan diulang saat nanti dirinya menjadi orang tua, sampai menanamkan rasa benci pada orang tua.

Perilaku ini lahir dari pengalaman buruk yang telah orang tua terima semasa kecil dulu. Trauma masa kecil itu pun mau tidak mau akan mempengaruhi pola pengasuhan si Kecil sekarang. Sementara penyebab lainnya adalah faktor himpitan kondisi orang tua itu sendiri, seperti contohnya ekonomi yang semakin sulit atau pun permasalahan rumah tangga. Jika keadaan ini tidak segera diatasi akan menimbulkan stress, yang pada akhirnya anak lah yang menjadi pelampiasannya.

Apa Itu Stress?

Stress merupakan situasi yang biasa terjadi pada tubuh akibat adanya tekanan, yang memberikan dampak kurang baik pada fisik dan mental orang yang mengalaminya. Respon yang akan terjadi pada diri orang yang mengalami stress berlebih adalah perubahan mood, emosi sulit terkontrol, mudah merasa cemas dan putus asa. Jika sudah mengalami hal tersebut respon yang terjadi pada tubuh ialah sulit bernafas, detak jantung lebih cepat, otot menjadi kaku, dan peningkatan tekanan darah.

Berikut tips yang dapat dilakukan untuk mengatasi stress, ini berguna pula untuk meminimalkan orang tua terperangkap dalam perilaku Toxic Parenting (tips menghindari toxic parenting).

  1.     Meminta Bantuan Orang lain

Saat stress melanda, seringkali kita menjadi diluar kendali dan ini sangat berbahaya. Ada baiknya saat Moms stress coba minta bantuan suami atau keluarga untuk mengurus si Kecil, sembari Moms meredam emosi. Namun jika tidak ada orang yang dapat dimintai bantuan, ada baiknya Moms menjauh sementara dari si Kecil sambil bernafas dalam dan menata emosi.

  1.     Bernafas

Bernafas merupakan salah satu tips mengatasi stress. Bernafas yang panjang dan dalam, selama beberapa detik cukup ampuh untuk meredam stress. Namun bernafas yang baik tentunya bernafas pada udara yang bersih dan segar.

 

Share:

Mengasah Motorik si Kecil dengan Permainan Sederhana


T
ahukah Moms, ternyata permainan melatih motorik sangat bagus untuk perkembangan si Kecil? Dalam bermain tanpa disadari si Kecil sebenarnya juga belajar, seperti stimulasi sentuhan, warna dan suara. Banyak permainan juga berguna untuk melatih perkembangan motoriknya.

Motorik sendiri merupakan kemampuan gerak dan proses tumbuh kembang pada anak.
Proses tumbuh kembang ini berjalan bersamaan dengan proses pematangan otot dan syaraf pada anak. Jadi setiap permainan dan gerakan sederhana yang kita berikan sebenarnya sangat berguna untuk melatih sistem saraf, otot bahkan sampai pada ke otak si Kecil.

Motorik terbagi menjadi dua bagian, Motorik halus dan Motorik Kasar.
1. Motorik Halus adalah gerak yang meliputi otot kecil yang dikoordinasikan melalui mata dan tangan. Pada anak dapat dilakukan dengan memberikan anak permainan melatih motorik halus seperti menyusun balok, mencoret-coret di kertas, menyusun puzzle dan memotong.

2. Motorik kasar adalah gerak yang meliputi seluruh anggota tubuh, seperti mulai belajar merangkak, duduk dan berjalan. Pada dasarnya hal yang akan dialami oleh si Kecil adalah motorik kasar terlebih dahulu kemudian diikuti motorik halus. Seperti halnya si Kecil dengan sendirinya dapat mulai berguling, merangkak bahkan berjalan, semua dapat berkembang sesuai kematangan fisik yang meliputi koordinasi semua anggota tubuh yang merupakan motorik kasar, sedangkan motorik halus perlu mendapatkan bantuan stimulasi lain agar dapat berkembang. Seperti misalnya si Kecil diberikan kertas untuk mencoret-coret, atau Moms mengajaknya berbicara semua itu hal-hal sederhana yang akan mengasah motoriknya.

Tapi perlu diingat Moms, motorik pada setiap anak berbeda-beda jadi jangan panik jika si Kecil belum bisa melakukan sesuatu di usianya.

Cara yang tepat untuk mengasah motorik anak adalah dengan mengajaknya bermain. Banyak permainan melatih motorik yang dapat Moms buat sendiri di rumah. Seperti misalnya untuk mengasah motorik anak yang baru belajar berjalan, Moms dapat memancing perhatiannya dengan mengarahkan mainan untuk memancingnya berjalan, sedangkan untuk mengasah motorik halus Moms bisa mengajaknya bernyanyi untuk mengasah kemampuan berbicaranya.

Apabila si Kecil mengalami keterlambatan motorik, sebaiknya Moms dapat segera mengonsultasikannya kepada dokter anak.  Karena apabila motorik halus atau motorik kasar terlambat tentu akan mengganggu perkembangan si Kecil ke depannya.

Share:

Kamis, 04 Februari 2021

Inilah 5 aplikasi Telemedicine Rujukan Pemerintah yang Harus Ibu Ketahui



 

Beberapa pekan yang lalu, saya sempat mengikuti  webinar yang cukup menarik temanya. Dalam webinar tersebut, perhatian saya terfokus pada ucapan dari salah satu narasumber diacara tersebut yaitu dr. Margareta Komalasari, Sp.A mengenai TELEMEDICINE. Adakah yang pernah mendengar atau sudah mencoba inovasi ini sebelumnya?
Yuk simak sharing kali ini, karena akan saya kupas tuntas mengenai Telemedicine ini.

Apa itu Telemedicine? 


Telemedicine atau yang memiliki sebutan lain Telemedis, Telekonsultasi atau TeleHealth merupakan hasil campur tangan perkembangan teknologi yang menciptakan inovasi pada dunia kesehatan. Berkat adanya inovasi tersebut jarak dan waktu bukan lagi hambatan untuk mendapatkan sebuah perawatan medis. Telemedicine memanfaatkan teknologi digital conference baik melalui aplikasi standar rumah sakit atau aplikasi penunjang lainnya seperti zoom, untuk menggantikan sesi tatap muka secara langsung dengan konsultasi melalui online atau video call. Sebenarnya Telemedicine ini sudah ada sejak lama, namun di Indonesia baru belakangan ini diperkenalkan.

Telemedicine Indonesia (Temenin)
Sebuah layanan kesehatan yang dikembangkan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia, yang meliputi 4 bagian pelayanan yaitu Radiologi, USG, Elektrokardiografi dan Konsultasi. Pelayanan Telemedicine ini sendiri dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu Telemedicine asinkronis dan Telemedicine sinkronis. Perbedaan keduanya ada pada pengiriman data pasien, apabila Asinkronis data pasien dikirimkan melalui email untuk dipelajari oleh dokter terlebih dahulu, yang kemudian diberikan diagnosis saat melakukan konsultasi online. Berdeda dengan Sinkronis, data pasien diberikan pada saat konsultasi online tersebut berlangsung. 

 5 aplikasi rujukan Telemedicine yang ditunjuk oleh pemerintah


1. KlikDokter dari Kalbe
2. Alodokter
3. Gojek dan Halodoc
4. Grab dan Good Doctor
5. SehatQ

Dapat kita sadari, perkembangan teknologi ini sangat membantu sekali, apalagi disaat dunia terjangkit wabah Covid-19 seperti ini. Dimana kita justru disarankan untuk tidak ke rumah sakit jika tidak dalam situasi darurat, demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Namun kehadiran Telemedicine ini juga masih terus digodok agar dapat berfungsi dengan maksimal.
Berikut Kelebihan dan Kelemahan dari pengunaan Telemedicine yang perlu diketahui;

Kelebihan Penggunaan Telemedicine

1. Solusi untuk masalah pemerataan fasilitas kesehatan yang terhalang oleh geografis, jarak, waktu dan tenaga medis yang minim.
2. Membantu memberikan pertolongan pertama secepat mungkin, yang mungkin dapat dilakukan dari rumah.
3. Mengurangi kepadatan antrian di rumah sakit, sehingga dapat memberikan pelayanan maksimal pada pasien yang lebih membutuhkan.
4. Menjadi layanan untuk memberikan rujukan pada rumah sakit tertentu, secara lebih cepat.
5. Pemberian data rujukan secara digital, untuk menghindari data tersebut hilang atau rusak saat di jalan.
6. Memangkas biaya konsultasi.

Kelemahan Penggunaan Telemedicine

Karena tidak adanya pemeriksaan secara langsung oleh dokter, sehingga ini pun mempengaruhi kualitas diagnosis itu sendiri. Dokter biasanya hanya akan memberikan diagnosis sementara dan juga beberapa tips pertolongan pertama pada penyakit tersebut.

Berdasarkan pengalaman saat si Kecil mengalami diare, saya merasa sangat terbantu dengan adanya Telemedicine ini. Khawatir saat harus membawa si Kecil ke rumah sakit pun teratasi berkat Telemedicine. Fasilitas yang waktu itu saya gunakan adalah layanan dari Fitur Grab Health dan Good Doctor (No sponsorship ya, just sharing :D) ada banyak dokter spesialis yang dapat kita pilih sesuai kebutuhan. Waktu konsultasi tersedia 24 jam, kita juga dapat meminta untuk diresepkan obat-obatan yang langsung dapat ditebus, kemudian jasa ojek online akan datang ke lokasi kita untuk memberikan obat tersebut. Canggihkan?! Tapi ingat konsultasi Telemedicine ini hanya berguna untuk penyakit sederhana yang tidak memerlukan pemeriksaan secara mendetail. Perlu diingat pula Bu, saat anak demam tinggi segera bawa ke layanan medis terdekat karena itu merupakan kondisi darurat, ingat bukan hanya Covid-19 yang mengancam kita, namun demam berdarah pun sedang ikut meruwak disambut dengan musim penghujan.

Semoga bermanfaat ya :D
-Risya Nur Amalia-

Share: