Tampilkan postingan dengan label Breastfeeding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Breastfeeding. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2021

Pengalamanku Operasi Wisdom Tooth Saat Masa Menyusui


 

 

Menjaga kesehatan gigi penting sekali hukumnya agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Namun nyatanya masalah yang timbul pada gigi tidak hanya gigi yang berlubang saja. Ada pula gigi geraham bungsu atau wisdom tooth yang tumbuh miring yang juga perlu diperhatikan, hal ini biasa disebut Impaksi atau gigi terpendam.

Biasanya apabila kita mengalami impaksi, gigi kita harus mendapatkan operasi kecil pada gigi.
Namun bagaimana jika hal ini terjadi pada ibu menyusui? Aman kah proses pencabutan ini dan obat-obatan yang digunakan untuk produksi ASI? Dalam artikel ini akan saya share dalam 3 tahapan persiapan, proses dan pasca operasi.

Impaksi pada gigi biasanya terjadi pada gigi geraham bungsu atau Wisdom Tooth yang tumbuh belakangan, biasanya gigi ini tumbuh di usia 17-25 tahun. Karena Gigi ini merupakan gigi terakhir yang tumbuh, tidak jarang gigi ini tumbuh tidak lurus sempurna dan sering kali tumbuh miring menabrak gigi sampingnya atau tumbuh tertahan di dalam gusi karena kurangnya tempat untuk tumbuh.

 

Tahapan menjalani operasi wisdom tooth


1. Persiapan

Belakangan ini saya sering sekali merasakan nyeri pada gigi geraham bungsu sampai rasa nyeri ini membuat kepala saya pusing sebelah atau migrain. Karena tidak kuat dan takut terjadi hal yang lebih serius akhirnya saya memutuskan untuk mengontrol gigi tersebut.

Setelah dokter memeriksa nya, ternyata saya memiliki impaksi dan lubang pada gigi. Dokter pun menjadwalkan untuk operasi pencabutan seminggu kemudian. Sebelumnya saya juga diharuskan untuk melakukan rontgen gigi dan tes gula darah.

 

 

Hasil rontgen gigi yang harus dicabut

 

 

2. Proses operasi wisdom tooth

Pada hari operasi pencabutan akan dilaksanakan saya disarankan untuk makan dulu sebelumnya, karena setelah operasi kita tidak diperbolehkan untuk makan dan berkumur sesudahnya. Bahkan untuk membuka mulut saja sulit. Operasi pun dimulai, saya diberikan suntikan bius lokal tepat dibagian gigi yang akan dicabut. Hal ini membuat bagian rahang, dan pipi pada bagian tersebut kebas.

Selama proses berlangsung suasana relax sangat diperlukan untuk membuat si pasien dan dokter relax dalam menjalani proses ini karena mengingat operasi ini terbilang cukup rumit. Saat operasi berlangsung saya tidak merasakan nyeri sama sekali namun saya dapat merasakan tulang gigi saya ditarik. Operasi wisdom tooth ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit.

Setelah gigi berhasil tercabut, dokter akan menjahit bagian gusi yang berlubang tersebut. Dan memberikan kassa dengan betadine yang harus digigit selama satu jam. Setelah 1 jam kassa tersebut harus diganti dengan kassa baru dan harus digigit lagi. Hal ini saya lakukan sampai 2 hari setelahnya, selama darah masih keluar.

Setelah selesai pencabutan juga kita tidak diperbolehkan berkumur atau meludah karena hal ini bermaksud untuk membuat gumpalan darah pada gusi. Usahakan makan yang mudah untuk dikunyah seperti bubur, dan jangan makan minum yang panas ataupun hangat selama darah belum berhenti. Dan yang paling penting istirahat yang cukup serta minum obat yang dokter berikan.

 

3. Pasca Operasi

Usahakan untuk langsung pulang dan beristirahat, lalu segera minum obat yang diberikan agar tidak terasa nyeri setelah bius hilang. Hindari menyikat gigi dibagian operasi dan jangan berkumur terlalu keras agar jahitan tidak rusak. Setelah keesokan hari nya pipi mungkin akan terlihat bengkak, hal ini terjadi sampai hari 3 dan mulai mengempis dihari ke4 dan ke5. Setelah seminggu, benang pada gusi pun dicabut disinilah kita dapat makan dengan normal.

Untuk kita sebagai ibu menyusui ini sempat membuat saya khawatir, ternyata hal ini tidak membahayakan dan obat yang digunakan juga tidak mengganggu produksi ASI. Namun ada baiknya Moms mengatakan kepada dokter kondisi Moms sedang menyusui agar lebih aman untuk obat yang diberikan.

Dokter pun menyarankan walaupun obat-obatan ini terbilang aman, tetap usahakan susuilah terlebih dahulu si Kecil sebelum meminum obat tersebut.

 

Share:

Proses Menyapih si Kecil Serta Berbagai Persiapannya Part 2

 


 

Seperti yang telah saya share di tulisan sebelumnya, saya memutuskan untuk menyapih si Kecil ketika usianya menginjak usia 2 tahun. Saya pun mencoba mencari tahu berbagai seluk beluk yang berkaitan mengenai menyapih anak. Berhubung ini merupakan proses menyapih anak pertama saya, jadi saya sangat buta dengan hal ini. Saya banyak mendapatkan referensi berbagai pengalaman Moms-Moms hebat dari Sosial Media dan disinilah saya banyak menemukan berbagai metode yang kiranya dapat saya praktekan dalam melalui proses menyapih ini.

Proses Menyapih pun Dimulai



Setelah saya menyiapkan mental dan memiliki berbagai metode serta rencana cadangan apabila metode pertama tidak berhasil, maka saya mulai mengajak si Kecil pelan-pelan untuk berhenti menyusu. Saya sering mengatakan nya saat dia sedang bermain, saat dia ingin tidur dan saat dia sedang menyusu. Hal ini terus menerus saya ucapkan agar dia paham maksud saya. Sayapun juga tidak segan memakai bahasa sehari-hari nya agar dia mengerti. Anak saya biasa menyebut ketika ingin menyusu dengan kata "unge" saya pun tidak mengerti kenapa bisa disebut unge. Akhirnya saya memakai kata itu untuk memberitahu nya "Anak mama sayang sebentar lagi sudah besar ya, sudah tidak unge lagi ya sayang, tapi mama tetap sayang kok" sembari memeluk dan mencium dahinya.

Hari pertama menyapih tiba. Dari sekian banyak sounding yang telah saya berikan ternyata hal ini tidak berhasil, seakan dia tidak merelakan untuk menghentikan proses menyusui ini. Hari pertama pun gagal.

Di hari kedua saya sudah siap untuk menjalankan metode cadangan jika diperlukan. Dari berbagai metode yang saya temukan di sosial media saya mendapatkan banyak metode, ada yang memberikan rasa pahit di puting si Ibu seperti memberi getah dari akar brotowali sampai memberi air cabai. Saya berpikir tidak akan melakukan metode ini, karena saya tidak mau ada yang masuk atau dicicipi oleh si Kecil, selain itu tidak enak dan mungkin saja berbahaya untuknya. Jadi saya memutuskan untuk memberi warna di puting saya dengan pasta gigi. Memang ini terkesan menipu diri sendiri dan si anak namun hal ini terpaksa saya lakukan karena saya rasa hal inilah yang paling dapat dimengerti anak saya.

Setiap dia ingin menyusu langsung segera saya oleskan pasta gigi di dada saya, namun lama kelamaan pasta gigi ini terasa panas Moms, akhirnya saya ganti dengan salep lain yang berwarna putih, kali ini saya menggunakan Sudocream, karena warna nya putih dan mudah untuk dibersihkan.

Benar saja, si Kecil terlihat jijik untuk menyentuhnya. Sambil saya berkata "unge nya tidak enak lagi, kita buat susu aja ya" hari kedua berhasil kita lalui tanpa menyusu. Namun saat malam hari dia mengamuk karena ingin menyusu namun tidak saya beri.
Beruntung dihari ketiga si Kecil sudah dapat menerima untuk tidak lagi menyusu. Walau terkadang dia masih menarik baju sekedar untuk melihat warna putih yang masih ada di dada saya. Sekarang pun setelah hampir sebulan proses menyapih ini kami lalui anak saya sudah dapat meminta sendiri apabila dia ingin menyusu. Kata-kata nya pun sudah benar "tutu tutu" sembari saya ucapkan dengan benar "susu... Mau susu ya sayang?"

Nah demikian pengalaman saya menyapih si Kecil. Dalam proses menyapih ini saya merasakan tidak ada drama yang berkepanjangan karena kami berdua sudah sama-sama siap, bagaikan prajurit yang siap untuk maju ke medan perang. Amunisi kami sudah sangat siap seperti mental kami, metode dan juga peran serta ayah yang membuat proses ini menjadi lebih mudah.
Kalau dipikir-pikir saya sampai lupa berapa hari tepatnya saya menjalani proses menyapih ini, karena memang hal itu berjalan begitu saja dan kami juga menikmati setiap prosesnya sebagai pembelajaran untuk anak kami berikutnya.

Yang perlu Moms ingat setiap anak memiliki keunikan dalam proses menyapih tersendiri dan setiap Moms pasti tahu mana yang tepat dan terbaik untuk anaknya, tidak ada metode yang benar dan yang salah dalam proses ini, hanya saja mana yang Moms rasa paling cocok untuk si Kecil. Semoga sharing saya dapat memberikan manfaat untuk Moms sekalian.


Share:

Proses Menyapih si Kecil Serta Berbagai Persiapannya

 


Setelah berhasil memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan, saya memutuskan untuk terus melanjutkan pemberian ASI sampai usia si Kecil menginjak 2 tahun. Hal ini sesuai dengan anjuran WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menganjurkan agar si Kecil dapat menerima ASI hingga usianya 2 tahun. 

Lalu disaat usianya menjelang 2 tahun, saya pun mulai diliputi rasa cemas dengan bagaimana cara untuk menghentikan kegiatan menyusui ini. Walau mungkin sebenarnya ada beberapa dari Moms yang akan terus melanjutkan masa menyusui ini lebih dari 2 tahun.

Hal yang akan saya tuangkan dalam tulisan ini merupakan pengalaman yang akan saya share kepada Moms sekalian, mungkin akan ada Moms yang tidak setuju dengan metode yang saya pilih. Namun percayalah ternyata setiap anak memiliki metode yang berbeda dalam melalui proses ini, dan metode yang saya pilih tentu sudah saya perhitungkan baik-baik untuk kedepannya.
 

Berbagai Persiapan dalam Menyapih


Pada saat akan menyapih banyak hal yang perlu kita siapkan, hal ini berguna untuk memuluskan jalan kita menuju keberhasilan proses menyapih itu sendiri.
 

1. Mempersiapkan Mental Moms

Kenapa kita harus mempersiapkan mental dalam melalui proses ini? tentu saja, karena masa menyusui adalah moment yang sangat indah dimana ibu dan anak dapat merasakan bonding yang luar biasa. Hal ini pun yang membuat saya sempat maju mundur untuk memulainya. Namun yang harus Moms tanamkan baik-baik adalah ketika Moms siap anak pun akan siap, maka jangan menjadikan proses menyapih ini menjadi proses perpisahan. Karena mungkin proses menyusuinya akan berakhir namun cinta kasih Moms tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun.
 

2. Persiapkan Diri si Kecil

Menghentikan menyusui secara tiba-tiba, ini sangat tidak dianjurkan ya Moms. Karena bayangkan saja kita tiba-tiba kehilangan rutinitas yang biasa kita lakukan sehari-hari, pasti akan sangat sedih dan bingung. Maka melakukan sounding dengan si Kecil adalah hal yang sangat penting untuk kita lakukan. Kita bisa memberi tahunya seperti ini, "Sayang kan sudah besar, anak pintar sekarang minum susu nya dari botol ya, bukan di Mama lagi. Susu Mama sudah tidak enak" atau "Sebentar lagi anak mama mau 2 tahun nih, itu artinya udah besar, kalau anak besar minum susu nya digelas ya kayak mama nih minumnya digelas" begitu terus yang saya lakukan, saya yakin lambat laun si Kecil akan menangkap maksudnya.
 

3. Mempersiapkan Solusi

Menghentikan tanpa memberi solusi itu adalah hal yang percuma. Moms harus mengganti kegiatan menyusui dengan hal lain. Hal yang saya pilih tentu dengan susu formula. Sehingga si Kecil merasa tidak terlalu berbeda, dia akan tetap mendapatkan susu hanya saja tidak lagi dari tubuh Moms.
Memilih susu formula pun ternyata perlu diperhatikan reaksi setelahnya, karena ada beberapa anak yang mungkin alergi dengan susu sapi maka dapat diberi dengan susu soya, ada pula anak yang tidak cocok dengan susu tersebut dan mengalami diare.
 

4. Mempersiapkan Metode Menyapih

Tentu beberapa metode sudah ada dalam pikiran saya, hanya saja mana yang akan dahulu kita eksekusi. Bahkan saya pun sudah memiliki plan B jika plan A gagal direalisasikan.


5. Mempersiapkan diri sang Ayah

Campur tangan suami dalam hal ini menurut saya sangat membuat hal ini menjadi lebih mudah. Moms jangan segan untuk meminta bantuan para suami untuk melaluinya bersama. Sekedar memintanya membuatkan susu formula untuk si Kecil atau sekedar menenangkan dan mengalihkan perhatian saat si Kecil meminta ASI hingga mengajaknya belajar tidur sendiri.


Karena proses menyapih ini memang cukup asik untuk dibahas, maka sharing ini akan saya lanjut ke Part Kedua, agar Moms tidak terlalu panjang membacanya.

Share:

Rabu, 25 November 2020

Tips Sukses ASI dengan Booster ASI



Ketika seorang Ibu sedang memasuki kehamilan pada trimester akhir, pasti hal yang sangat diharapkan adalah dapat langsung memberikan ASI untuk buah hati nya setelah melahirkan ataupun dapat dengan mudah melakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini. 

Seperti yang WHO telah tetapkan, dianjurkan untuk setiap ibu untuk memberikan ASI di 1000 hari pertama adalah karena itulah masa-masa emas dalam pertumbuhan nya. Dari mulai dalam kandungan kemudian dilanjut dengan memberikan ASI sejak lahir dengan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), dilanjut lagi dengan ASI Ekslusif sampai usia nya 6 bulan, kemudian bertahap sampai dengan pemberian Makanan Pendamping ASI hingga 2 tahun.

Namun untuk mewujudkan sukses ASI Ekslusif tidak semudah itu, kita perlu menjaga makanan yang kita makan dan memastikan apa yang Moms makan merupakan makanan sehat yang mengandung 4 sehat 5 sempurna. Bahkan ada beberapa makanan yang dianggap menjadi makanan pelancar ASI. 

Saya salah satunya yang menjadikan katuk sebagai makanan andalan untuk pelancar ASI. Bahkan katuk sudah saya konsumsi di usia kehamilan 7 bulan, dan ketika usia kehamilan memasuki 8 bulan asi pertama saya sudah mulai keluar. Akhirnya saya berhasil menyusui dini ketika anak saya lahir walaupun saya harus melalui operasi Caesar.

Mengapa saya memilih Katuk sebagai ASI booster ?

Sebenarnya banyak makanan yang juga dapat di konsumsi sebagai makanan pelancar ASI, seperti kacang almond, sari kacang hijau, buah pepaya muda, sayur bayam, dan masih banyak lagi.

Namun katuk bagi saya adalah makanan yang cukup mudah diolah. Hanya dengan merebusnya dan membuat semangkuk sayur katuk bening lengkap dengan wortel dan jagung saja sangat nikmat dan bergizi. Sementara untuk khasiat nya pun tidak perlu diragukan lagi.

Berbagai khasiat dari semangkuk sayur katuk

Ketika Moms terbiasa mengonsumi sayur-sayuran, cobalah untuk mulai mengonsumsi daun katuk. Karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian RI pada tahun 2004 menyatakan ibu menyusui yang mengonsumsi ekstrak daun katuk dapat meningkatkan produksi ASI 50.7% lebih banyak dibanding ibu yang tidak mengonsumsi nya



Dalam semangkuk sayur katuk pun juga mengandung berbagai macam vitamin yang sangat bermanfaat bagi si Ibu dan bayi.

Daun katuk banyak mengandung vitamin diantara nya Vitamin A, B, C, K, dan pro vitamin A (betakaroten), kalsium, fosfor, zat besi dan serat, juga berfungsi sebagai antioksidan.

Dalam daun katuk pun terdapat senyawa Galactogogue yang juga berperan untuk meningkatkan produksi ASI. Namun sistem kerja senyawa ini rupanya hanya dapat berlaku kepada ibu yang menyusui anak nya secara rutin atau terbiasa mengosongkan payudara. Jadi walaupun Moms rutin mengonsumsi Booster ASI tetap harus didukung dengan rutin menyusui si Kecil atau mengosongkan payudara sesering mungkin ya, agar Booster ASI dapat benar-benar terlihat khasiat nya.

Beruntung saat ini banyak produk Booster ASI yang menggunakan Katuk sebagai bahan dasar nya. Sehingga ketika Moms tidak sempat untuk mengolah katuk untuk dijadikan menu makanan, Moms tetap dapat mengonsumsi nya dalam bentuk kapsul.

Semakin semangat MengASIhi kan Moms, apalagi dengan berbagai bentuk dari daun katuk yang dapat Moms konsumsi. Baik dengan diolah menjadi sayur bening katuk ataupun dalam bentul pil kapsul keduanya sama-sama memiliki khasiat yang ampuh untuk meningkatkan produksi ASI.



Share: